Tembak Ikan

Menembak Ikan Jadi Mata Pencarian

Menembak Ikan Jadi Mata Pencarian

Menembak Ikan Jadi Mata Pencarian – Berburu ikan dengan peralatan tembak ternyata sangat menguntungkan dan menjadi sumber mata pencaharian bagi yang tidak punya keahlian khusus. Menembak ikan juga tidak butuh ijazah.

Buktinya seperti dibeberkan Suhada, warga kampung Lemah Kecamatan Bebesen Kabupaten Aceh Tengah. Saat ditemui di Kala Toweren beberapa saat setelah dia keluar dari Danau Lut Tawar. Dengan sekitar 15 kilogram ikan berupa Mujahir dan Bawal.

“Rata-rata saya berhasil mendapatkan ikan dari menembak 10 – 15 kilogram perharinya dan say jual Rp.20 ribu perkilogramnya,” kata Suhada.

Dengan hasil tangkapan sebanyak itu, Suhada mengaku mempunyai sejumlah pelanggan yang menunggu ikan hasil tembakannya. Dia mengaku sudah 2 tahun menjalani profesi tersebut dan bisa menutupi kebutuhan keluarganya dengan 3 orang anak.

Selain itu, Suhada juga mengajak seorang rekannya untuk membantu dia dalam bekerja. “Saya biasa mengajak seorang rekan untuk membantu saya menunggu di lokasi saya mendarat dan saya beri dia uang rata-rata Rp.50 ribu setelah menjual hasil tembakan,” ungkap Suhada.

Menurut Suhada, pekerjaan tersebut tidak berat, tidak butuh modal dan tidak butuh keahlian khusus “Menembak ikan tidak sama dengan menembak burung.

Jarak tembak biasanya hanya beberapa jengkal jari dari kita sehingga sangat mudah membidik ikan-ikan tersebut.

Untuk modal juga tidak besar, hanya sekitar Rp.300 ribu untuk membeli alat tembak dan bisa bertahan hingga 1 tahun,” papar Suhada.

Pengakuan Suhada yang hanya hari Jum’at tidak turun ke Danau Lut Tawar ini, untuk berprofesi sebagai penembak ikan hanya butuh ketahanan tubuh serta kemampuan melawan dinginnya air danau.

Dan untuk bisa mengapung diatas danau bisa dengan menggunakan ban dalam mobil yang anginnya bisa ditiup saja tanpa perlu dipompa.

Suhada biasa menembak dengan jarak kurang dari 1 kilometer dengan waktu sekitar 3 jam perharinya dan biasa menembak dikawasan Loyang Koro hingga Kala Toweren atau disekitar Loyang Peteri Pukes.

Dan menurut amatannya ada sekitar 30 orang yang berprofesi seperti dia sebagai penembak ikan sebagai mata pencahariannya.

“Kalau pehobi nembak ikan banyak tapi menjadikannya sebagai sumber pencaharian hanya sekitar 30 orang,” kata Suhada yang hanya tamatan SMA di Langsa tersebut.

Dia juga membandingkan modal menembak ikan sangat murah dibanding usaha perikanan lainnya. Selain itu juga rasa ikan hasil tembakan lebih enak daripada ikan yang dipelihara di kolam atau dikeramba.

“masyarakat lebih suka ikan yang ditangkap langsung dari danau ketimbang ikan yang dipelihara di kolam atau keramba. Mungkin faktor makanan,” kata Suhada.

Banyak Sampah dan jaring Tua

Amatan Suhada disejumlah tempat di dasar Danau Lut Tawar banyak sampah berupa plastic dan kain serta  jaring (doran) tua atau dikenal dengan istilah ilmiahnya sebagai Ghost Net didalam danau tersebut.

“Banyak sekali sampah rumah tangga berupa plastik dan kain didasar danau terutama dimuara sungai yang dilalui perkampungan,” ujar Suhada seraya menyarankan agar ada upaya pembersihan sampah-sampah tersebut yang difasilitasi oleh Pemerintah setempat.

Selain itu dia juga menghimbau agar masyarakat tidak membuang sampah baik langsung atau tidak kedalam danau.

Untuk jaring ikan (Gayo : doran), Suhada mengaku sangat miris melihat jaring yang tertinggal didalam danau karena dari amatannya banyak sekali ikan yang mati sia-sia terjerat jaring tersebut.

“Hendaknya jaring-jaring tersebut kita ambil dari dasar danau dan tentu untuk mengambilnya harus dengan alat modern, kami tidak mampu untuk melakukannya,” pintanya.

Sane di Danau Lut Tawar

Ditanya tentang kejadian aneh yang dialaminya di danau Lut Tawar, dia mengaku pernah sebanyak 2 kali namun tidak sampai membahayakan keselamatannya. “Alhamdulillah saya masih sehat hingga saat ini,” ujarnya.

Pengalamannya saat menembak di kawasan Loyang Koro pernah merasa seperti hilang ingatan namun dia tidak merasa sakit sedikitpun.

Dia baru tahu ada yang aneh saat pulang kerumah dan saat akan mandi. Istrinya yang berprofesi sebagai pendepe (tukang sortir biji kopi).

Terkejut karena melihat ada bekas telapak tangan berwarna agak kehitaman di punggungnya. “Tidak ada rasa sakit atau kejadian aneh-aneh setelah kejadian tersebut,” imbuh Suhada lagi.

Kejadian aneh lainnya dialami Suhada di seputaran Gegarang Kecamatan Bintang. Kejadian tersebut terkait adanya Sane (sebutan raja ikan di danau Lut Tawar).

Belum lama ini saya menembak ikan di Gegarang. Dan saya melihat ikan besar berupa ikan Bawal yang lebih besar dari saya. Kira-kira seukuran perahu tidak jauh dari saya berada.

Semula saya berpikir untuk menembaknya, namun saya urungkan karena jikapun saya tembak pasti. Akan membahayakan keselamatan saya atau alat tembak saya yang akan hilang. Jadi saya urung menembaknya,” kenang Suhada.

Pengakuan Suhada, dia mempercayai bahwa itulah yang disebut-sebut orang sebagai Sane di Danau Lut Tawar. “Saat melintas, ikan tersebut diikuti oleh banyak sekali ikan-ikan bawal. Yang besar-besar. Dan saya memilih untuk tidak menggannggunya,” ujar Suhada lagi.

Dia juga berlogika wajar jika ada ikan sebesar itu di Danau Lut Tawar. Mengingat umur danau yang sudah ada sejak zaman dahulu kala. Wallahu a’lam Bissawab.

Waspada Bahaya Menembak Ikan di Sungai

Waspada Bahaya Menembak Ikan di Sungai

Waspada Bahaya Menembak Ikan di Sungai – Satu lagi korban tewas di Bengkulu Utara (BU) lantaran tenggelam. Adalah Hermen (50), ditemukan tak lagi bernyawa di permukaan Sungai Air Besi, Desa Gunung Selan, Arga Makmur.

Tubuhnya ditemukan oleh warga dalam posisi sedikit mengapung di aliran sungai yang terbilang kecil tersebut. Tubuh korban tampak sudah nampak kembung, diduga kebanyakan terminum air sungai. (lebih…)

Cara Menembak Ikan Dengan Senapan Angin

Cara Menembak Ikan Dengan Senapan Angin

Cara Menembak Ikan Dengan Senapan Angin – Senapan Angin Untuk Menembak Ikan. Akibat berburu burung atau sejenisnya dilarang instansi terkait.

Akhirnya sekelompok pemuda yang memiliki hobi berburu mengalihkan sasaran tembaknya ke ikan. Mereka setiap hari menyambangi sungai dan kolam tempat penampungan air mencari ikan buruan.

“Seringnya dapat ikan gabus. Karena karakteristik ikan gabus senang menghirup udara dan berada di permukaan air”. Kata Casman, 32 seorang pemburu ikan sewaktu dijumpai Pos Kota sedang berburu ikan di Sungai Cimanuk.

Dikatakan, pemburu ikan di Indramayu masih belum banyak. Jumlahnya baru puluhan orang. Atifitas berburu ikan tergolong masih baru. Mereka melakoni kegiatan itu sekitar 3 pekan terakhir.

Itu setelah instansi terkait gencar mengkampanyekan kelestarian lingkungan. Melarang pemburu menembak burung dan unggas lainnya.

Diakui ada perbedaan berburu burung dengan ikan. Dari sisi caranya berburu burung itu sebetulnya lebih mudah karena sasarannya beradadi atas kepala. Sedangkan berburu ikan, sasarananya berada di bawah kaki pemburu.

Dari sisi peluru, kata Wardi, 31, berburu ikan itu pelurunya tidak menggunakan peluru yang biasa digunakan untuk senapan angin. Peluru dibuat sendiri.

Bahan dasarnya dari paku atau potongan besi beton. Pada ujungnya dibuat lancip. Sedangkan bagian belakangatau gagangnya diikat senar atau benang layang-layang.

Ikan yang terkena sasaran tembak, katanya tidak bisa kabur. Sebab pelurunya biasanya menembus bagian tubuh ikan sehingga pemburu tidak perlu mengejar sasaran tapi cukup dengan menarik senarnya ke atas mirip permainan layang-layang.

Cara membuatnya sebenarnya mudah. Tapi jika bukan ahlinya, peluru yang melesat itu tidak tepat sasaran.

Karena itu membuat peluru untuk berburu ikan harus hati-hati dan memperhatikan segi keseimbangan. Sehingga peluru yang ditembakkan tepat mengenai target.

Jenis ikan yang sering didapat saat berburu selain ikan gabus juga ikan nila, gurame dan mujair. Jenis-jenis ikan itu sering muncul ketika sedang menghirup udara permukaan air.”

Jenis ikan yang lain pun sebenarnya bisa jadi target, asalkan kelihatan oleh mata,” ujarnya.

Save

Petualangan Menembak Ikan di Sungai

Petualangan Menembak Ikan di Sungai

Petualangan Menembak Ikan di Sungai – Bagi Anda yang bepergian melalui jalur Pantura Demak. Di sepanjang Sungai Sayung hingga Buyaran.

Akan dijumpai para lelaki yang menunggu mangsa dengan senjata laras panjang. Ada yang bersembunyi di atas pohon, di pinggir sungai, atau nongkrong di atas jembatan.

Layaknya seorang penembak jitu atau sniper, mereka siap membidik sasaran.Targetnya bukanlah manusia, melainkan hewan air sejenis ikan gabus yang oleh masyarakat Demak dikenal sebagai ikan kutuk.

Dengan bersenjatakan senapan angin yang telah dimodifikasi sedemikian rupa, mereka siap menjadi pemburu handal. Peluru yang digunakan pun hasil inovasi.

Yang terbuat dari jeruji sepeda motor, yang diruncingkan pada bagian ujungnya. Lalu, mata peluru itu dikaitkan dengan senar pancing, sehingga dapat melesat seperti anak panah ketika ditembakkan.

Jika tembakan mereka meleset dari sasaran, maka “peluru ” tersebut tidak akan terbuang sia- sia. Sebab dapat digulung dan digunakan lagi dengan cara memompa senapan.

Hari (42), warga Desa Mranak Kecamatan Wonosalam Demak, saat ditemui, mengaku, sudah tiga tahun ini dia berburu ikan kutuk.

Menurut bapak dua anak itu, berburu ikan kutuk membutuhkan kesabaran. Karena harus menunggu ikan air tawar itu muncul dari permukaan sungai. Paling tidak harus menunggu 10 sampai 30 menit.

Jika beruntung, maka dalam sehari pria penganguran itu bisa mendapatkan ikan kutuk 4 sampai 5 kilogram. Hasil buruan itupun kemudian dijual kepada para pelanggan yang rata-rata pemilik warung makan atau ibu rumah tangga.

Satu kilogram harganya Rp 18.000, dan berisi dua ekor untuk ukuran besar, atau 4-5 ekor untuk ukuran sedang. “Awalnya baru saya saja yang menggelutinya, sekarang pemburu kutuk sudah banyak.

Sejak tiga tahun ini, keluarga saya hidup dari hasil berburu kutuk,” kata Hari. Pada hari-hari kerja, para pemburu kutuk hanya beberapa orang saja.

Namun pada saat musim libur atau hari minggu jumlahnya bisa mencapai puluhan orang, apalagi para pemburu asal Kudus dan Jepara juga ikut berburu kutuk sampai ke Demak.

Senada dengan Hari, Saiful Badowi (22), warga Desa Karangtowo, Kecamatan Karangtengah Demak, berburu kutuk harus sabar dan telaten.

Buruh bangunan itu mengaku sudah tiga bulan berburu kutuk untuk sekadar menyalurkan hobi menembak. “Menembak kutuk itu hobi yang membawa hoki. Lumayan hasilnya bisa buat beli rokok,” ujarnya.

Ikan kutuk mudah dijumpai pukul enam pagi atau pukul tiga sore. Di jam-jam tersebut ikan kutuk sering muncul di permukaan sungai untuk mencari makan.

Hasil buruannya tidak perlu repot-repot dijual ke pasar, sebab biasanya sudah ada yang menunggu untuk membelinya. Apalagi kalau di pasar harga ikan kutuk bisa mencapai Rp 20.000 per kilogramnya.

Ikan kutuk terbilang lezat, karena dagingnya lembut dan gurih. Selain digoreng, ikan kutuk dapat dimasak semur kutuk, menemani nasi dan sambal terasi.